Foto: Adrianus R. Pusungunaung (kiri) bersama Zulmansyah Sekedang (kanan) saat momen kebersamaan di sela-sela Kongres Persatuan Wartawan Indonesia.
MANADO — Patrolimabes.com Kabar duka kembali menyelimuti dunia pers nasional. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Zulmansyah Sekedang, mengembuskan napas terakhir pada Sabtu, 18 April 2026, pukul 00.05 WIB di RS Budi Kemuliaan, Jakarta, setelah mengalami serangan jantung.
Kepergian beliau tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga menyisakan kenangan dan pesan berharga yang tak akan terlupakan, khususnya bagi rekan-rekan di Sulawesi Utara.
Bagi Adrianus R. Pusungunaung, mantan Wakil Ketua PWI Sulut Bidang Advokasi dan Pembelaan Wartawan periode 2021–2026, almarhum bukan sekadar pimpinan organisasi, melainkan sahabat sejati dan rekan seperjuangan yang telah melewati berbagai dinamika bersama.
“Ada sejarah panjang dalam perkenalan saya dengan beliau, dan ada pesan khusus yang beliau sampaikan sebelum wafat,” ujar Adrianus.
Beberapa hari sebelum meninggal, tepatnya Senin, 16 April 2026, Zulmansyah sempat menghubunginya via telepon. Dalam percakapan itu, terselip pesan mendalam tentang pentingnya menjaga kekompakan.
“Intinya bagaimana kita tetap solid menjaga marwah dan nama baik PWI,” kenang Adrian.
Kedekatan keduanya terjalin sejak masa sulit, ketika PWI tengah dilanda dualisme kepengurusan. Saat itu, Adrianus mengaku menjadi satu-satunya pengurus di Sulut yang berani berdiri tegak mendukung langkah Zulmansyah dalam kubu Kongres Luar Biasa (KLB).
Kepercayaan itu begitu besar hingga ia ditawari posisi strategis, bahkan ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua. Namun dengan hati lapang, ia menolak.
“Saya memilih mundur dan mendukung saudara Vanny Loupatty. Saya melihat track record dan jaringannya, saya yakin beliau bisa membawa perubahan,” ungkapnya.
Ketika struktur mulai dibentuk, tawaran kembali datang untuk mengisi posisi Sekretaris atau Bendahara, namun lagi-lagi ia tolak. Ia memilih tetap di posisinya, bekerja di belakang layar demi persatuan.
Perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Kongres Persatuan di Cikarang, Jawa Barat, 30 Agustus 2025, menjadi titik balik. Dualisme usai, organisasi bersatu. Akhmad Munir terpilih sebagai Ketua Umum, dan Zulmansyah dipercaya kembali sebagai Sekjen.
Adrianus pun tak bisa melupakan kebesaran hati Voucke Lontaan, Ketua PWI Sulut saat itu, yang mau merangkul semua pihak meski pernah berseteru keras.
“Sudah saya lawan dengan sangat keras, tapi beliau tetap merangkul. Itulah jiwa besar yang jarang dimiliki orang lain,” paparnya.
Ia pun menegaskan bahwa konflik yang terjadi bukanlah masalah pribadi antar sesama insan pers di daerah, melainkan semata-mata menjalankan amanat organisasi saat itu, sebagaimana juga disampaikan Vanny Loupatty.
“Yang salah bukan kami di Sulut. Saya dan Voucke tidak ada masalah pribadi. Kami hanya menjalankan tugas dari PWI Pusat saat itu,” tegasnya.
Namun, hal yang paling membekas hingga kini adalah pesan terakhir yang dikirimkan Zulmansyah melalui WhatsApp menjelang akhir hayatnya:
“Jabatan bertukar silih berganti, persahabatan dan silaturahmi sampai mati… Torang basudara.”
Pesan singkat namun sarat makna itu kini menjadi pelajaran berharga tentang arti persaudaraan sejati yang melampaui jabatan dan ego.
“Saya tidak akan pernah melupakan kalimat itu sampai mati,” tutur Adrianus dengan suara bergetar menahan haru.
Di akhir wawancara, ia menyampaikan rasa duka dan terima kasih yang mendalam.
“Saya pribadi turut berduka cita dan mengucapkan terima kasih atas kepercayaan serta kebaikan almarhum. Selamat jalan, Bapak Sekjen.”
(JG)
Social Header