Breaking News

Kepala ASGAS RI : Perkuat Daya Saing dan Kemandirian Indonesia Diminta Tetap Tegas Menghadapi Tantangan Global

Jakarta – Patrolimabes.com Kepala Agen Spesial Garuda Sakti Republik Indonesia (ASGAS RI), Prajaya Gantari Surobesari, menegaskan bahwa Indonesia saat ini tengah memasuki fase strategis yang akan menentukan posisi, daya saing, dan daya tawarnya di tingkat regional maupun global dalam beberapa dekade mendatang.

Menurutnya, berbagai program prioritas nasional yang sedang dijalankan pemerintah pada hakikatnya merupakan bagian dari upaya membangun fondasi kemandirian nasional yang lebih kuat, berkelanjutan, dan mampu menjawab tantangan perubahan geopolitik serta ekonomi dunia yang semakin kompleks.

“Momentum ini harus dijaga bersama. Bangsa Indonesia perlu belajar dari pengalaman masa lalu agar berbagai potensi strategis yang dimiliki tidak kembali mengalami hambatan akibat tekanan eksternal maupun dinamika kepentingan global yang dapat mengurangi ruang gerak pembangunan nasional,” ujarnya.

Ia menilai berbagai bentuk tekanan, baik melalui instrumen ekonomi, pembentukan opini publik, pengaruh politik, kompetisi pasar, maupun berbagai upaya lain yang berpotensi memperlambat efektivitas kebijakan strategis negara, harus diantisipasi dan dihadapi secara cermat melalui penguatan kapasitas nasional.

Oleh karena itu, seluruh elemen bangsa perlu memahami bahwa penguatan kapasitas nasional merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi, disiplin, integritas, profesionalisme, serta ketahanan mental kolektif. Faktor-faktor tersebut menjadi fondasi utama dalam membangun daya tahan nasional terhadap berbagai ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan yang dapat memengaruhi pencapaian tujuan strategis negara.

Dari perspektif hubungan internasional, Prajaya menilai prinsip politik luar negeri bebas aktif yang tercermin dalam filosofi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yaitu *“Seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak,”* merupakan pendekatan strategis yang bertujuan memperluas ruang diplomasi sekaligus meminimalkan potensi konflik yang dapat merugikan kepentingan nasional.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa diplomasi yang efektif harus ditopang oleh instrumen daya tawar nasional yang kuat, baik melalui kekuatan ekonomi, penguasaan teknologi, kapasitas industri, kemampuan pertahanan, maupun kualitas sumber daya manusia yang unggul.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk mengawal secara konsisten program-program pembangunan yang sedang berjalan. Penguatan sumber daya manusia menjadi prioritas utama melalui peningkatan kualitas gizi, pendidikan, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM), yang didukung oleh kemampuan bahasa internasional.

Menurutnya, investasi pada pembangunan manusia merupakan strategi jangka panjang yang akan menentukan daya saing bangsa sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan global di masa depan.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pengawalan berbagai program strategis pemerintah yang berorientasi pada penguatan ekonomi kerakyatan berbasis desa dan pesisir. Salah satunya melalui pengembangan Koperasi Desa Merah Putih sebagai agregator ekonomi pedesaan yang berfungsi memperkuat struktur ekonomi lokal, meningkatkan produktivitas masyarakat, serta menjadi pilar kemandirian ekonomi desa.

Sejalan dengan itu, Koperasi Nelayan Merah Putih dikembangkan sebagai instrumen strategis penguatan ekonomi pesisir yang berperan meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui akses permodalan yang lebih terjangkau, pengelolaan hasil tangkapan yang lebih efisien, serta penguatan rantai nilai sektor perikanan secara berkelanjutan.

Mengakhiri pernyataannya, Prajaya menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh lagi terjebak dalam sikap ragu-ragu ataupun ketergantungan yang berlebihan terhadap pihak lain. Dengan kekayaan sumber daya, jumlah penduduk yang besar, dan posisi geopolitik yang strategis, Indonesia memiliki modal yang cukup untuk tampil sebagai kekuatan penting di tingkat regional maupun global.

“Indonesia harus berani melangkah maju dan tidak mundur lagi. Seluruh komponen bangsa harus bersatu mengawal agenda pembangunan nasional agar cita-cita menuju Indonesia yang mandiri, maju, dan berdaulat dapat terwujud.

Pada bagian penutup, Prajaya kembali mengingatkan seluruh elemen bangsa untuk tetap waspada dan mengawal berbagai agenda strategis nasional yang sedang dijalankan pemerintah. Menurutnya, kebijakan-kebijakan seperti hilirisasi industri, penguatan tata kelola ekspor sumber daya alam, serta pembangunan infrastruktur pada titik-titik strategis nasional yang terintegrasi melalui jalur darat, laut, dan udara merupakan langkah penting dalam memperkuat kemandirian ekonomi serta daya saing Indonesia.

Namun demikian, ia menilai keberhasilan agenda-agenda strategis tersebut berpotensi menimbulkan resistensi dari berbagai pihak yang merasa dirugikan oleh perubahan yang sedang berlangsung, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Oleh karena itu, diperlukan kewaspadaan, persatuan, dan komitmen seluruh komponen bangsa agar berbagai upaya yang dapat menghambat pencapaian kepentingan nasional tidak mengganggu arah pembangunan yang telah ditetapkan” pungkasnya.

(Red PM)
© Copyright 2022 - PATROLI MABES.COM